Intan masih menunggu di kamar Hafshah. Namun, hari semakin gelap dan tidak ada tanda-tanda kedatangan teman satu kamarnya. Ia menutup jendela, pintu dan merapikan lemari. Saat itulah, di salah satu buku yang ia rapikan, Intan menemukan kertas. Ditarik dan dibacanya perlahan. Kemudian bulir deras dari kedua mata itu jatuh membasahi pipi bulat Intan. Penyesalan dan hanya penyesalan.
Kertas yang tertulis dan diselipkan di sela-sela buku tak terlihat ataupun disentuh oleh Intan. Isyarat yang diberi oleh Pira tak ada kemajuan sedikitpun. Padahal beberapa kali Intan melihat dan merapikan keadaan di atas lemarinya.
Dua hari kemudian, tepat di hari jum´at. Penghuni kamar hafshah sibuk membereskan tempat tidur dan lemarinya masing-masing. Hari jum´at adalah hari libur yang diberikan pihak pondok kepada semua santri yang masih menimba ilmu. Kelas bahasa arab, kelas Fiqh, kelas Sirah dan kelas tahfidz, juga kelas-kelas lainnya ditiadakan sementara waktu. Hari jum'at diisi dengan senam bersama juga kerja bakti yang selalu dilakukan di pagi hari.
Sudah tujuh hari semenjak kejadian di Tabligh Akbar. Pira lupa menemui Bu Nyai untuk menyampaikan amanah dari Intan. Lagipula Intan sepertinya juga sibuk oleh kegiatan Pondok yang menyita waktunya. Bahkan untuk mengobrol atau mengingatkan keinginannya tidak dapat dilakukannya.
Waktu berlalu begitu cepat. Matahari terik sudah di atas kepala dan bayangan pun telah sejajar dan lebih pendek dari benda yang dipantulkannya. Sholat zuhur sudah dilaksanakan, begitu pun dengan makan siang. Intan yang sedari tadi sibuk memilih jilbab dan gamis terbaik untuk dikenakannya pada acara Tabligh Akbar siang itu. Pun dengan pirana, ia tengah bersiap untuk pergi. Tetapi Sulis dan Bu hana sama sekali tidak kelihatan di asrama.
Pagi hari, di halaman depan kamar Hafsah.
"Mb Pira, hari ini ada kesibukan, tidak? di Masjid akan diadakan Tabligh Akbar, katanya pembicaranya adalah Ustads kondang." tanya Intan.
"Ustads kondang? Siapa?."
Lima belas tahun yang lalu.
Merayakan Anniversary adalah hal wajib bagi setiap pasangan kekasih untuk menumbuhkan rasa memiliki satu sama lain dan juga merekatkan hubungan yang telah dijalin. Itu sih katanya Bang Dana setiap kali anniversary.
Keesokan harinya sekitar jam tiga pagi. Mengucapkan doa bangun tidur lalu mengambil air wudhu. Pirana, janda kembang itu selalu menjadi alarm bagi teman-temannya, ia yang selalu pertama bangun dari tidur. Pirana dengan sengaja membacakan lantunan ayat suci Alquran untuk membangunkan teman kamarnya, jika dalam sepuluh menit mereka masih belum bangun maka Pirana akan membangunkannya dengan menggerak-gerakkan badan mereka.
Keputusan untuk menjadikan Hafshah sebagai nama kamar mereka adalah hal yang tidaklah mudah. Banyak pertimbangan yang harus mereka pikirkan. Bukan hanya memberikan label nama tanpa ada arti, tetapi harus penuh makna dan memberikan pengetahuan baru bagi yang mendengarnya.
Bu Hana, perempuan paling senior itu ditunjuk sebagai leader yang mengatur diskusi santai dengan mengangkat tema pemberian nama kamar. Sesekali terjadi perdebatan antar mereka demi mendapatkan nama yang baik dan penuh arti dalam ruangan yang belum bernama tersebut.
Sumber Gambar : ppmaswaja.org
Kepulan debu bertebaran sepanjang jalan. Lalu lalang pengendara meninggalkan debu dan asap yang berkumpul membentuk satu kesatuan. Terbang tinggi melintasi udara menuju rumah-rumah penduduk, meninggalkan jejak kasap yang mesti di bersihkan oleh penghuninya setiap hari. Pohon-pohon yang terletak di tepi sepanjang jalan pun layu. Daun menguning, berguguran saling menyusul satu sama lain. Akar yang berusaha tegar tanpa makanan sedikitpun, mulai kehilangan semangat dan berharap hujan menyirami tubuhnya yang berkerut dan rapuh.
Kepulan debu bertebaran sepanjang jalan. Lalu lalang pengendara meninggalkan debu dan asap yang berkumpul membentuk satu kesatuan. Terbang tinggi melintasi udara menuju rumah-rumah penduduk, meninggalkan jejak kasap yang mesti di bersihkan oleh penghuninya setiap hari. Pohon-pohon yang terletak di tepi sepanjang jalan pun layu. Daun menguning, berguguran saling menyusul satu sama lain. Akar yang berusaha tegar tanpa makanan sedikitpun, mulai kehilangan semangat dan berharap hujan menyirami tubuhnya yang berkerut dan rapuh.












